Minggu, 13 Januari 2013

Peran Guru Dalam Pembelajaran


A. Pengertian
Guru menurut UU no. 14 tahun 2005 “adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”
B. Peran Guru
Para pakar pendidikan di Barat telah melakukan penelitian tentang peran guru yang harus dilakoni. Peran guru yang beragam telah diidentifikasi dan dikaji oleh Pullias dan Young (1988), Manan (1990) serta Yelon dan Weinstein (1997). Adapun peran-peran tersebut adalah sebagai berikut :
1. Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
2. Guru Sebagai Pengajar
Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika factor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan terampil dalam memecahkan masalah. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran, yaitu : Membuat ilustrasi, Mendefinisikan, Menganalisis, Mensintesis, Bertanya, Merespon, Mendengarkan, Menciptakan kepercayaan, Memberikan pandangan yang bervariasi, Menyediakan media untuk mengkaji materi standar, Menyesuaikan metode pembelajaran, Memberikan nada perasaan. Agar pembelajaran memiliki kekuatan yang maksimal, guru-guru harus senantiasa berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat yang telah dimilikinya ketika mempelajari materi standar.
3. Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.
Sebagai pembimbing perjalanan, guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakan empat hal berikut :
  • Pertama, guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai.
  • Kedua, guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.
  • Ketiga, guru harus memaknai kegiatan belajar.
  • Keempat, guru harus melaksanakan penilaian.
4. Guru Sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Hal ini lebih ditekankan lagi dalam kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, karena tanpa latihan tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar dan tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi standar.
5. Guru Sebagai Penasehat
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental.
6. Guru Sebagai Pembaharu (Inovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak daripada nenek kita. Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam pendidikan. Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan pengalaman yang berharga ini kedalam istilah atau bahasa moderen yang akan diterima oleh peserta didik. Sebagai jembatan antara generasi tua dan genearasi muda, yang juga penerjemah pengalaman, guru harus menjadi pribadi yang terdidik.
7. Guru Sebagai Model dan Teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk ditentang, apalagi ditolak. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru : Sikap dasar, Bicara dan gaya bicara, Kebiasaan bekerja, Sikap melalui pengalaman dan kesalahan, Pakaian, Hubungan kemanusiaan, Proses berfikir, Perilaku neurotis, Selera, Keputusan, Kesehatan, Gaya hidup secara umum perilaku guru sangat mempengaruhi peserta didik, tetapi peserta didik harus berani mengembangkan gaya hidup pribadinya sendiri. Guru yang baik adalah yang menyadari kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang ada pada dirinya, kemudian menyadari kesalahan ketika memang bersalah. Kesalahan harus diikuti dengan sikap merasa dan berusaha untuk tidak mengulanginya.
8. Guru Sebagai Pribadi
Guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Ungkapan yang sering dikemukakan adalah bahwa “guru bisa digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani.  Jika ada nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianutnya, maka dengan cara yang tepat disikapi sehingga tidak terjadi benturan nilai antara guru dan masyarakat yang berakibat terganggunya proses pendidikan bagi peserta didik. Guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olah raga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh masyarakat.
9. Guru Sebagai Peneliti
Pembelajaran merupakan seni, yang dalam pelaksanaannya memerlukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi lingkungan. Untuk itu diperlukan berbagai penelitian, yang didalamnya melibatkan guru. Oleh karena itu guru adalah seorang pencari atau peneliti. Menyadari akan kekurangannya guru berusaha mencari apa yang belum diketahui untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas. Sebagai orang yang telah mengenal metodologi tentunya ia tahu pula apa yang harus dikerjakan, yakni penelitian.
10. Guru Sebagai Pendorong Kreatifitas
Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreatifitas tersebut. Kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan cirri aspek dunia kehidupan di sekitar kita. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu. Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilaianya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya.
11. Guru Sebagai Pembangkit Pandangan
Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan kepada pesarta didiknya. Mengembangkan fungsi ini guru harus terampil dalam berkomunikasi dengan peserta didik di segala umur, sehingga setiap langkah dari proses pendidikan yang dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini.
12. Guru Sebagai Pekerja Rutin
Guru bekerja dengan keterampilan dan kebiasaan tertentu, serta kegiatan rutin yang amat diperlukan dan seringkali memberatkan. Jika kegiatan tersebut tidak dikerjakan dengan baik, maka bisa mengurangi atau merusak keefektifan guru pada semua peranannya.
13. Guru Sebagai Pemindah Kemah
Hidup ini selalu berubah dan guru adalah seorang pemindah kemah, yang suka memindah-mindahkan dan membantu peserta didik dalam meninggalkan hal lama menuju sesuatu yang baru yang bisa mereka alami. Guru berusaha keras untuk mengetahui masalah peserta didik, kepercayaan dan kebiasaan yang menghalangi kemajuan serta membantu menjauhi dan meninggalkannya untuk mendapatkan cara-cara baru yang lebih sesuai. Guru harus memahami hal yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi peserta didiknya.
14. Guru Sebagai Pembawa Cerita
Sudah menjadi sifat manusia untuk mengenal diri dan menanyakan keberadaannya serta bagaimana berhubungan dengan keberadaannya itu. Tidak mungkin bagi manusia hanya muncul dalam lingkungannya dan berhubungan dengan lingkungan, tanpa mengetahui asal usulnya. Semua itu diperoleh melalui cerita. Guru tidak takut menjadi alat untuk menyampaikan cerita-cerita tentang kehidupan, karena ia tahu sepenuhnya bahwa cerita itu sangat bermanfaat bagi manusia. Cerita adalah cermin yang bagus dan merupakan tongkat pengukur. Dengan cerita manusia bisa mengamati bagaimana memecahkan masalah yang sama dengan yang dihadapinya, menemukan gagasan dan kehidupan yang nampak diperlukan oleh manusia lain, yang bisa disesuaikan dengan kehidupan mereka. Guru berusaha mencari cerita untuk membangkitkan gagasan kehidupan di masa mendatang.
15. Guru Sebagai Aktor
Sebagai seorang aktor, guru melakukan penelitian tidak terbatas pada materi yang harus ditransferkan, melainkan juga tentang kepribadian manusia sehingga mampu memahami respon-respon pendengarnya, dan merencanakan kembali pekerjaannya sehingga dapat dikontrol. Sebagai aktor, guru berangkat dengan jiwa pengabdian dan inspirasi yang dalam yang akan mengarahkan kegiatannya. Tahun demi tahun sang actor berusaha mengurangi respon bosan dan berusaha meningkatkan minat para pendengar.
16. Guru Sebagai Emansipator
Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insane dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “budak” stagnasi kebudayaan. Guru mengetahui bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan seringkali membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak menyenangkan, kebodohan dan dari perasaan tertolak dan rendah diri. Guru telah melaksanakan peran sebagai emansipator ketika peserta didik yang dicampakkan secara moril dan mengalami berbagai kesulitan dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri.
17. Guru Sebagai Evaluator
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variable lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Teknik apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Penilaian harus adil dan objektif.
18. Guru Sebagai Pengawet
Salah satu tugas guru adalah mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi berikutnya, karena hasil karya manusia terdahulu masih banyak yang bermakna bagi kehidupan manusia sekarang maupun di masa depan. Sarana pengawet terhadap apa yang telah dicapai manusia terdahulu adalah kurikulum. Guru juga harus mempunyai sikap positif terhadap apa yang akan diawetkan.
19. Guru Sebagai Kulminator
Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bisa mengetahui kemajuan belajarnya. Di sini peran kulminator terpadu dengan peran sebagai evaluator. Guru sejatinya adalah seorang pribadi yang harus serba bisa dan serba tahu. Serta mampu mentransferkan kebisaan dan pengetahuan pada muridnya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan dan potensi anak didik.
Begitu banyak peran yang harus diemban oleh seorang guru. Peran yang begitu berat dipikul di pundak guru hendaknya tidak menjadikan calon guru mundur dari tugas mulia tersebut. Peran-peran tersebut harus menjadi tantangan dan motivasi bagi calon guru. Dia harus menyadari bahwa di masyarakat harus ada yang menjalani peran guru. Bila tidak, maka suatu masyarakat tidak akan terbangun dengan utuh. Penuh ketimpangan dan akhirnya masyarakat tersebut bergerak menuju kehancuran. (http://anomsblg.wordpress.com)

Bila disimpulkan ada 3 tugas pokok guru adalah :

1.Mengajar
Mengajar berarti menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Menjadikan siswa dari tidak tahu menjadi mengetahui tentang berbagai disiplin ilmu sesuai mata pelajaran masing-masing. Fokus utamanya adalah aspek kognitif (intelektual) siswa.  Tugas mengajar dilaksanakan dengan berbagai strategi dan metode, serta media pembelajaran yang sesuai.

2. Mendidik.
Tugas guru sebagai pendidik boleh dibilang agak sulit. Mendidik berkaitan dengan sikap dan tingkah laku (afektif) siswa . Mendidik berarti mengubah sikap dan tingkah laku siswa ke arah yang lebih baik. Pameo “Guru Kencing Berdiri, murid kencing berlari” akan benar-benar jadi kenyataan  bila guru tidak memahami tugas yang satu ini.

3. Melatih
Tugas guru melatih bertujuan agar siswa memiliki sejumlah keterampilan dan kecakapan sesuai mata pelajaran masing-masing. Pada sekolah umum, maka keterampilan dan kecakapan yang dimaksud disini adalah keterampilan dan kecakapan dasar. Berbeda dengan sekolah kejuruan yang memberikan keterampilan dan kecakapan lanjutan. (http://swardik.blogspot.com)

Begitu berat beban dan tanggung jawab seorang guru, semoga tunjangan profesi guru menjadikan guru lebih amanah, lebih mampu menjalankan tugasnya dengan lebih baik, bukan sebaliknya. Amin.

Selasa, 08 Januari 2013

Dua Sistem Operasi dalam Satu PC/Laptop


MENGGUNAKAN 2 SISTEM OPERASI  DALAM 1 PC ATAU LAPTOP
Meskipun Windows 8 sekarang sudah di release dan digemborkan sebagai sistem operasi yang bakal ngetop. Namun masih banyak para pengguna yang masih tidak bisa meninggalkan Windows 7 atau Windows XP. Dipercaya atau tidak Windows XP sampai saat ini masih banyak digunakan oleh pengguna pc atau laptop karena sistem operasi Windows XP dikenal tidak boros memori, kestabilan tinggi, ringan, dan dijamin tidak akan lemot meskipun berjalan dengan memori eksternal yang minim yakni 250MG atau dibawahnya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila masih banyak warnet yang menggunakan Windows XP sebagai sistem operasinya. Komputer dengan memori 1gb ke bawah akan lebih baik bila menggunakan Windows XP.
Kalau Anda ingin menjadikan PC atau Laptop Anda memiliki 2 sistem operasi, misalnya Windows XP dan Windows 7, maka ikuti langkah berikut ini:
1.  Install terlebih dahulu Windows XP, kalau yakin tidak ada data yang penting  di hardisk, lebih baik format saja. (Jangan lupa hardisk harus sudah dipartisi 2 atau lebih). Kalau Anda menggunakan explore dan hardisk Anda ada C, D, E misalnya berarti ada tiga partisi). Melalui CD installer Windows XP, Anda bisa mempartisi ulang hardisk. Anggap saja Anda tidak perlu melakukan pemartisian ulang, lanjutkan saja langkah berikut.
Saat menginstall, gunakan cd yang baik dan bersih dari virus, pastikan reboot awal dari cdroom. Agar yakin,  setelah tombol power ditekan, tekan satu atau dua kali tombol Del pada PC atau tombol F2 pada laptop.  Cari menu boot order lalu pilihlah cd room sebagai urutan pertama. Pengubahan  urutan ini biasanya menggunakan tombol F5 atau F6 atau juga tombol + dan tombol -. Simpan perubahan tersebut., dan computer akan melakukan reboot.
2. Sebelum melakukan penyimpanan bios (langkah 1 di atas) sebaiknya masukkan terlebih dahulu cd intaller windows xp. Nah, selamat menginstall semoga sukses.
3. Kalau sudah selesai, install dulu perangkat driver seperti chipset, vga, audio dll. Kalau sudah masukkan cd installer windows 7.
4. Biasanya autorun, kalau tidak buka cd room dengan explore. Double klik pada file setup yang bertipe application. Nah, ikuti instruksinya.
Nah, kini Anda sudah punya dua system operasi dalam satu pc atau laptop. Selamat mencoba. Apabila ada kegagalan bisa sharing.  
Ingat! Anda harus menginstall program di masing-masing system operasi. Misalnya Anda menghendaki bias membuka Office 2007 di windows xp maupun windows 7, maka lakukan instalasi office 2007 tersebut di masing-masing system operasi.
Oh ya, apabila sukses maka pada saat reboot pertama kali computer selalu menampilkan dua pilihan system operasi . anda tinggal memilih dengan menggunakan tombol anak panah system operasi mana yang hendak dipakai.

Kamis, 13 Desember 2012

Menjadikan Internet Download Manager Full Version

Saya yakin, para netter pasti sudah kenal dan familier betul dengan program Internet Download Manager (IDM). Untuk urusan download IDM menduduki posisi paling atas dalam akurasi maupun kecepatannya. Ini sepanjang yang saya tau lho, tapi memang saya dah buktiin sendiri. Pernah saya download film Hindi yang ukurannya mencapai hampir 1GB, seharian deh downloadnya, putus nyambung tapi sukses. Apalagi ukuran di bawah itu, dijamin lancar-lancar aja.
Penggemar berat Youtube kalau mau download asal sudah diinstall IDM gak perlu lagi program pengaya atau Add On untuk mendownloadnya, karena diposisi pojok kanan atas layar, dah nongkrong tuh tulisan download pake idm yang tinggal klik aja.

 Namun, sayangnya program ini berbayar. Jadi ya mesti beli! Saya sarankan bila Anda berkecukupan beli saja melalui situs resminya. Ini kan demi hak cipta dan pengembangan program tersebut ke depan. Cuma urusannya kan agak repot buat orang semacam saya yang gak punya kartu kredit. Jadi ya pakai aja versi gratisnya alias trial yang hanya berlaku selama 30 hari saja. Akan tetapi dengan sedikit trik, program yang semula trial ini akan menjadi gratis tis alias gk perlu bayar alias full version. IDM yang trial bisa jadi full version hehehe bisa hemat fulus kan?

Yang perlu diperhatikan:
1. Setiap kali install maupun buka IDM pastikan posisi koneksi ke internet off alias putus
2. Kalau muncul peringatan seperti gambar di bawah klik OK aja

3. Lalu muncul pilihan untuk registrasi:
*  isi sembarang nama pada first name
*  isi sembarang nama pada last name
*  isi dengan email anda yang masih berlaku / valid
*  isi serial number berikut ini: I23LZ-H5C2I-QYWRT-RZ2BO

4. klik OK, apabila muncul peringatan ....
5. klik OK lagi
6. Kini jalankan IDM (pastikan koneksi masih off)
7. Kalau muncul lagi seperti gbr 2 di atas lakukan sekali lagi langkah di atas
8. Setelah IDM sudah jalan, kini koneksikan kembali internet Anda
Catatan:
Apabila keesokan hari Anda buka idm muncul lagi fake serial number, lakukan lagi langkah di atas. pengalaman q sih cuma registrai 2x setelah itu sampai sekarang gk pernah muncul fake serial number, jadi sdh benar2 full version. selamat mencoba, bila belum berhasil bisa kontak saya.





Rabu, 08 Agustus 2012

KEBERSAMAAN YANG DIDAMBAKAN DAN YANG TERABAIKAN


oleh: M. Wahid Rosyidi

Penetapan awal ramadhan 2012 atau 1433 H kembali terjadi perbedaan, dan dimungkinkan penetapan Idhul Fitri pun akan terjadi perbedaan kembali. Muhammadiyah dan FPI menetapkan awal Ramadhan sehari lebih dulu daripada keputusan pemerintah yang juga didukung oleh NU dan berbagai ormas muslim lain melalui sidang ishbat departemen agama.
Perbedaan penentuan awal Ramadhan maupun Idul Fitri, bagi kalangan intelektual atau kaum terpelajar merupakan hal yang bisa dimaklumi, bisa diterima dengan mudah, argumen yang dianut masing-masing dengan berbagai tetek bengek penjelasan, dalil-dalil dan lain sebagainya itu. Akan tetapi, bagi kalangan awam, yang justru merupakan mayoritas kaum muslim, seperti pedagang, petani, nelayan, buruh, karyawan, perbedaan itu menjadi tanda tanya besar. Perbedaan itu menjadi kebingungan dan ketidakmengertian, dan kesulitan menentukan pilihan lebih-lebih masyarakat yang tidak memiliki affiliasi ke ormas tertentu. Masyarakat yang fanatik atau yang menjadi anggota ormas, mudah saja menentukan pilihan, misalnya anggota NU mengikuti keputusan NU, anggota Muhammadiyah ikut keputusan Muhammadiyah disamping itu ada juga anggota suatu jamiyah tertentu yang juga menentukan sendiri awal Ramadhan mennurut perhitungan sendiri meskipun dilakukan secara diam-diam.

Benar, dalam Islam dikatakan bahwa perbedaan itu adalah suatu rahmat, tetapi perbedaan semacam inikah yang disebut rahmat itu? Fenomena perbedaan awal Ramadhan dan idhul Fitri sudah seringkali terjadi. Ingatan penulis, semenjak reformasi perbedaan itu lebih banyak daripada kebersamaan. Sekali lagi patut dipertanyakan, apakah perbedaan ini memang benar-benar murni karena ketaatazasan memenuhi dan menjalankan perintah agama ataukah ada dilandasi kepentingan politik, kepentingan golongan meski itu hanya sepercik saja? Bukankah sebab nila setitik rusak susu sebelangga? Maka, jangan salahkan masyarakat awam bila kepercayaan kepada pemerintah atau ormas makin berkurang. Jangan salahkan masyarakat bila dikandang ayam berkokoh, di kandang kambing mengembik.
Masa Orde Baru, setahu penulis tidak pernah terjadi perbedaan itu. Bisa dipahami, masa pemerintahan yang cenderung militeristik itu sangat tegas. Sesuatu yang dianggap bisa merugikan langsung dilibas.

Mengaca dari sejarah masa lalu ini mestinya reformasi dan demokrasi di negeri ini sebaiknya berjalan perlahan-lahan. Masyarakat yang sudah lama terkungkung dan terbiasa dengan pola pemerintahan Orde Baru, pastilah memerlukan waktu untuk berubah, tidak serta merta ganti pemerintah berubahlah segalanya 100 derajat. Reformasi dan demokrasi yang keblablasan, bisa menjadikan empati dan simpati masyarakat berbelok arah. Bisa jadi masyarakat akan rindu kembali pola pemerintahan orde baru, sebab jargon kebersamaan itu indah pun masih tak lekang dari mindset masyarakat. Gotong royong sebagai manifestasi dan implementasi kebersamaan itu rasanya tak akan bisa hilang dari tradisi masyarakat kita. Dalam agama pun diajarkan bahwa sebaik-baik perkara itu yang tengah-tengah, tidak terlalu kanan atau ke kiri. Nah, dengan demikian dalam pemerintahan yang demokratis sekalipun sebenarnya ketegasan itu tetap diperlukan.

Sungguh ironi, sementara pemerintah dengan sidang ishbatnya telah menentukan suatu keputusan, namun tidak bisa ditaati oleh masyarakatnya. Inikah demokrasi itu? Semua terserah rakyat? Kalau begitu mengapa diadakan sidang isbhat? Toh akhirnya sia-sia belaka. Dimana peran pemerintah? Bukankah negara memiliki kewenangan untuk memaksa? Atau karena demokrasi maka pemerintah menjadi tidak berwibawa? Atau karena hak asasi manusia? Atau karena demi kepentingan kelompok tertentu? Atau karena sesuatu seperti lagunya Syahrini itu? Atau karena.... dan berpuluh-puluh, beratus-ratus, berjuta-juta, berttrilyun-trilyun alasan lainnya? Bukankah kita wajib menaati umaro'?Ya inilah pertanyaan-pertanyaan masyarakat awam itu! Mereka bingung, bingung dan bingung.  Penjelasan tentang titik derajat, hilal, azimut, dan tetek bengek lainnya tidak akan masuk ke akal pikiran mereka. Mindset mereka kebersamaan itu indah. Mengapa kita masih saja mengubur mimpi indah mereka?***

Minggu, 15 Juli 2012

Menjelang Ramadhan Harga Sembako Naik, Salahkan Siapa?

Oleh: M. Wahid Rosyidi

Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Memang seringkali  kenaikan harga sembako  yang selalu terjadi setiap tahun menjelang Ramadhan belum menunjukkan inflasi, namun seringkali pula kenaikan tersebut akan terus berlanjut karena setelah Ramadhan usai harga yang sudah naik cenderung tidak akan turun kembali. Dengan kata lain, terjadi proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu.
Sebenarnya kenaikan harga sembako  setiap menjelang ramadhan lebih banyak bersifat psikologis. Masyarakat muslim Indonesia, terutama di Jawa, selalu melakukan budaya ‘megengan’ yakni selamatan baik dilakukan di musholla atau masjid maupun dibagi-bagikan kepada tetangga dan saudara.  Siapa mau melarang orang melakukan selamatan? Tentu tidak ada. Apalagi konteks megengan ini sebagai bentuk penghormatan dan rasa senang akan datangnya bulan suci ramadhan. Apalagi agama mengajarkan akan mendapat pahala yang besar bagi siapa saja yang menghormati, menaruh rasa senang akan tibanya bulan ramadhan, bulan rahmat, bulan penuh ampunan. Maka, selamatan ‘megengan’  dipastikan akan menjadi budaya tetap tahunan. Nampaknya, harapan untuk mendapat pahala yang besar di bulan suci ramadhan dengan melakukan selamatan ‘megengan’ tanpa disadari telah memicu kenaikan harga.
Secara teoritis ada kenaikan harga sebenarnya yang penyebabnya adalah (1) Bertambahnya persediaan uang,  (2.) Berkurangnya produktifitas, (3.Bertambahnya kemajuan aktivitas, dan (4) Berbagai pertimbangan fiskal dan moneter. Dan ada Kenaikan Harga Buatan. Berkurangnya barang dengan cara buatan yang diciptakan oleh para pengusaha serakah, mengakibatkan perubahan harga disebabkan oleh usaha spekulatif , penimbunan, perdagangan gelap, dan penyelundupan. Islam benar-benar mengutuk jenis kegiatan buatan dalam harga. Nabi SAW bersabda : “Orang yang menumpuk persediaan bahan pangan ketika kekurangan hal itu, (dengan maksud akan mendapatkan keuntungan), berdosa besar”. HR. Muslim

Dalam ekonomi bebas,  permintaan dan suplai komoditi menentukan harga normal yang mengukur permintaan efektif yang ditentukan oleh tingkatan kelangkaan pemasokan dan pengadaan peningkatan permintaan suatu komoditi cenderung menaikkan harga, dan mendorong produsen memproduksi barang-barang itu lebih banyak. Masalah kenaikan harga timbul karena ketidaksesuaian antara permintaan dan suplai. Ketidaksesuaian ini terutama karena adanya persaingan yang tidak sempurna di pasar. Persaingan menjadi tidak sempurna apabila jumlah penjual dibatasi atau apabila ada perbedaan hasil produksi.

Sebenarnya, harga lebih banyak ditentukan oleh kekuatan pasar, yakni kekuatan penawaran (supply) dan permintaan (demond), Namun demikian, kecenderungan naiknya harga menjelang ramadhan dari tahun ke tahun menyebabkan nilai mata uang menurun. Apalagi nilai mata uang rupiah terhadap dollar sangat menyedihkan hampir menyentuh level Rp 10.000,-an
Maka wacana kebijakan renumerisasi nilai rupiah patut ditindaklanjuti. Langkah konkritnya pemerintah harus segera menerbitkan mata uang baru. Misalnya pecahan 5 rupiah uang baru memiliki nilai sama dengan uang 50.000 cetakan lama. Sehingga orang boleh bertransaksi dengan pecahan lama maupun yang baru. Secara perlahan uang lama ditarik setelah tergantikan oleh pecahan uang baru.
Selamat megengan, selamat berpuasa

Kamis, 24 Mei 2012

Menggugat Eksistensi Sekolah


by M. Wahid Rosyidi
Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa (atau "murid") di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. (Wikipedia). Kata sekolah berasal dari Bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti: waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang itu adalah mempelajari cara berhitung, cara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni). Namun, Saat ini, kata sekolah berubah arti menjadi: merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.
Peran sekolah sangatlah besar dan menjadi tumpuan bagi orang tua dalam mendidik anak. Sekolah telah menjadi lembaga pendidikan sebagai media berbenah diri dan membentuk nalar berfikir yang kuat. Di sekolah, anak belajar menata dan membentuk karakter. Sekolah merupakan wahana yang mencerdaskan dan memberikan perubahan kehidupan anak-anak didik. Dengan kata lain, sekolah mampu memberikan warna baru bagi kehidupan anak ke depannya, sebab di sekolah mereka ditempa untuk belajar berbicara, berfikir, dan bertindak. Yang jelas, sekolah mendidik anak untuk menjadi dirinya sendiri. Sekolah bertanggung jawab menanamkan pengetahuan-pengetahuan baru yang reformatif dan transformatif dalam membangun bangsa yang maju dan berkualitas. Dengan demikian, peran sekolah sangat besar dalam menentukan arah dan orientasi bangsa ke depan.

Lebih jauh lagi peran sekolah menjadi sangat signifikan bagi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Dengan sekolah, pemerintah mendidik bangsanya untuk menjadi seorang ahli yang sesuai dengan bidang dan bakatnya si anak didik, yang berguna bagi dirinya, dan berguna bagi nusa dan bangsa. Dengan sekolah pula, umat manusia yang berperadaban dan beragama mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang tinggi sebagai bekal untuk melanjutkan dan memperjuangkan agamanya.

Tak pelak lagi di era globalisasi sekarang ini, orang tua yang memiliki keterbatasan dalam mendidik anak-anaknya telah menyerahkan anak-anaknya kepada sekolah dengan maksud utama agar di sekolah itu anak-anak mereka menerima ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat dipergunakan sebagai bekal hidupnya kelak di kehidupan dunianya dan kehidupan akheratnya.

Padahal Islam menganjurkan bahwa pendidikan anak yang utama dan pertama adalah dalam keluarga. Pihak yang memiliki kewajiban pertama dan utama dalam mendidik anak adalah orangtua. Hal ini tercermin dari hadist berikut ini: Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. bersabda: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR a-Bukhari, Muslim, al-Baihaqi, an-Nasa'i, at Tirmidzi). Demikian pula Allah Subhanhu Wa Ta'ala telah memerintahkan kepada setiap orang beriman untuk menjaga dirinya dan keluarganya termasuk anak-anaknya dari api neraka (QS at-Tahrim [66]: 6).

Dengan demikian sekolah adalah pelengkap proses pendidikan yang diberikan orangtua di rumah. Dalam Islam, sekolah diperlukan untuk melahirkan para ahli ilmu pengetahuan, para pemimpin mukhtis yang cerdas, para ahli ijtihad dan ahli fikih, ahli teknik yang mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ahli ini diperlukan oleh umat untuk kesejahteraan hidup dan kejayaan umat di mata dunia. Karena itu, sekolah harus dibingkai dalam sistem pendidikan yang memiliki visi dan misi untuk kesejahteraan dan kebangkitan umat.

Kerja Sama antara Keluarga dan Sekolah
Hasil pendidikan yang baik akan diperoleh jika ada kerjasama yang erat dan harmonis antara sekolah dan keluarga atau orang tua. Dengan adanya kerja sama itu, orang tua akan mendapatkan :
a. Pengetahuan dan pengalaman dari guru dalam hal mendidik anak-anaknya.
b. Mengetahui berbagai kesulitan yang sering dihadapi anak-anaknya di sekolah.
c. Mengetahui tingkah laku anaknya selama di sekolah, seperti apakah anaknya rajin, malas, suka membolos, suka mengantuk, nakal dan sebagainya.

Sedangkan bagi guru, dengan adanya kerja sama tersebut guru akan mendapatkan :
a. Informasi-informasi dari orang tua tentang kehidupan dan sifat-sifat anaknya. Informasi-informasi tersebut sangat berguna bagi guru dalam memberikan pendidikan sebagai anak didiknya.
b. Bantuan-bantuan dari orang tua dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi anak didiknya di sekolah.

Fungsi Sekolah
Sekolah merupakan wahana sosialisasi anak yang akan menentukan corak berfiki rdan berperilaku yang sesuai dengan norma-norma yang diyakini dan dimiliki masyarakat. Pada gilirannya, kepribadian anak akan terbentuk sesuai dengan akar budayanya dengan kemampuan merespon perubahan di masyarakat. Di sekolah berlangsung proses sosialisasi anak melalui pendidikan. Guru menjadi transformer nilai-nilai budaya kepada semua anak didik untuk menjadi bagian dari masyarakat yang berbudaya. Pada intinya, sekolah memiliki fungsi pendidikan, peran sosial, indokrinasi, pemeiliharaan, dan aktivitas kemasyarakatan.

Lebih lanjut dijelaskan oleh (Mukhlison, 2008) bahwa sekolah memiliki fungsi (a) Mempersiapkan anak untuki suatu pekerjaan, (b) Memberikan ketrampilan dasar, (c)  Membuka kesempatan memperbaiki nasib, (d) Menyediakan tenaga pembangunan, (e) Membentuk manusia sosial

Tantangan pendidikan era global
Pada abad ke 21 kencangnya arus globalisasi semakin terasa, menghantam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Menurut Tofler, pada saat ini sedang terjadi pergeseran kekuasaan (powershift) yang menggerogoti setiap pilar sistem kekuasaan lama yang secara mendasar telah dan akan mengubah kehidupan keluarga, bisnis, politik, negara-negara, dan struktur kekuasaan global itu sendiri. Kekuatan, kekayaan, dan pengetahuan menjadi tiga dasar kekuasaan yang mementukan kompetisi global.
Dalam era Informasi, eksistensi keluarga sebagai bagian dari masyarakat juga memberikan implikasi penting bagi sistem baru pendidikan. Menurut Reigeluth dan Garfinkel, model karakteristik masyarakat informasi tersebut antara lain :
a. Tujuan dan model berkisar pada proses pengorganisasian iptek mengenai informasi dan pengembangan pengetahuan.
b. Dasar kekuatannya adalah perluasan kekuatan kognitif dengan teknologi tinggi.
c. Paradigmanya adalah berfikir sistemik, munculnya hubungan sebab akibat (causality), kompleksitas yang dinamis, orientasi ekologi.
d. Berkembangnya teknologi; proses pengumpulan, pengorganisasian, penyimpanan informasi, jaringan komunikasi, sistem perencanaan dan rancangan.
e. Komoditi pokok; informasi dan pengetahuan sebagai kunci produk, manusia profesional dan pelayanan teknik adalah komoditi utamanya.
f. Pola konsumsi lebih kecil dan lebih efisien.
g. Karakteristik organisasi; terpadu, sinergi, perubahan, dan fleksibilitas.

Stoop (1981: 463-464) menjelaskan bahwa pada hakekatnya lembaga mempunyai 2 fungsi terhadap masyarakat yaitu fungsi layanan dan fungsi pemimpin. Dikatakan fungsi layanan karena ia melayani kebutuhan masyarakat, baik itu pendidikan, pengajaran maupun kebutuhan daerah-daerah setempat. Dikatakan sebagai pemimpin karena ia memimpin masyarakat disertai dengan penemuan-penemuannya untuk memajukan kehidupan masyarakat.

Fuad Ihsan (1997: 98-99) mengutip pendapatnya Sapiah Faisal (1980) dalam bukunya dasar-dasar kependidikan menyebutkan 4 peran sekolah terhadap perkembangan masyarakat adalah sebagai berikut;
a. Mencerdaskan kehidupan bangsa
Kecerdasan masyarakat dapat dikembangkan melalui pendidikan formal dan non formal. Kecerdasan memang sangat penting bagi perkembangan masyarakat. Masyarakat yang tingkat kecerdasannya tinggi akan mudah memecahkan problema hidup dalam masyarakat.
b. Membawa virus pembaharuan bagi perkembangan masyarakat.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan akan banyak melakukan penelitian untuk meningkatkan kualitasnya. Penelitian tersebut akan menghasilkan penemuan-penemuan baru yang pada akhirnya akan dipergunakan untuk meningkatkan perkembangan masyarakat.
c. Melahirkan warga masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja di lingkungan masyarakat.
Untuk terjun kelapangan pekerjaan diperlukan bekal yang matang, pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sekolah akan berusaha menyusun kurikulumnya secara fleksibel terhadap perkembangan zaman sehingga akan menghasilkan out put yang siap pakai.
d. Melahirkan sikap positif dan konstruktif bagi warga masyarakat, sehingga tercipta integrasi social yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.
Sikap positif dan konstruktif sungguh sangat didambakan oleh masyarakat dan sekolah telah berusaha membekali siswanya sejak sekolah dasar lewat pendidikan agama, pendidikan moral pancasila, maupun bidang studi yang lain.

Namun dibalik fungsi dan peran sekolah yang demikian besar itu, ada beberapa hal yang patut dipertanyakan. Pertama, proses pendidikan cenderung cognitif oriented. Kecenderungan ini telah mengarahkan anak didik berperilaku hedonis, konsumtif,  hanya berfikir nilai ekonomis belaka. Kedua,  Munculnya persaingan antar sekolah dalam ranah material. Sekolah berupaya mencari murid sebanyak-banyaknya dengan perhitungan semakin banyak siswa akan semakin banyak nilai profit yang diterima, apalagi banyaknya kucuran dana dari pemerintah baik berupa BOS, BSM, Blogrant dan bantuan-bantuan lainnya. Sekolah memiliki kecenderungan menyusun proposal untuk menerima bantuan, sementara aspek kualitas masih berada diurutan berikutnya. Ketiga, Mengikisnya nilai-nilai agama pada peserta didik. Transformasi pendidikan yang terjadi melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi cenderung cognitif oriented sehingga transformasi nilai pun terabaikan. Ketidakseimbangan tersebut dapat menjadikan terkikisnya nilai-nilai agama pada peserta didik. Salah satu contoh konkretnya misalnya pada kasus pengggunaan fasilitas Facebook. Facebook sebagai alat jejaring sosial bisa dimanfaatkan sebagai media transformasi pengetahuan dan sosial namun dalam penggunaannya banyak pemakainya yang mengabaikan waktu solat, mengabaikan pekerjaan, mengabaikan belajar, dan mengabaikan kewajibannya yang lain dan lebih mementingkan diri untuk ber-facebook ria. Tidak itu saja media televisi, internet dan HP pun ikut andil dalam  membentuk nilai moral bagi anak didik.

Kini eksistensi sekolah memang patut dipertanyakan, sejauh manakah sekolah mampu memberikan tranformasi pengetahuan yang berbasis religius sehingga di balik majunya teknologi informasi dan komunikasi, sekolah mampu membekali siswa agar siswa memiliki filter dan kemampuan menyerap tradisi budaya global sehingga tata nilai  moral dan budaya luhur bangsa serta nilai-nilai agama tetap menjadi acuan utama anak didik dalam berperilaku sehari-hari. Sebuah tantangan yang sangat berat bagi sekolah.  Dengan demikian peran guru menjadi sangat strategis,  andaikan surga ditangan kanan dan neraka di tangan kiri, maka guru harus bisa membawa siswa meraih tangan kanan.  Bukankah guru kencing berdiri, murid kencing berlari? Semoga saja para guru diberi hidayahNya sehingga mampu membimbing siswa meraih surga.***